Jumat, 15 Oktober 2010

Contoh Pentingnya Proses

Contoh Pentingnya Proses
Process

Mengacu pada sistem yang digunakan untuk membantu organisaasi dalam memberikan layanan. Bayangkan Anda berjalan ke Burger King dan Anda memesan Whopper Meal dan Anda mendapatkan mengirimkannya dalam waktu 2 menit. Apa proses yang memungkinkan Anda untuk mendapatkan pelayanan yang efisien? Bank yang mengirimkan Kartu Kredit secara otomatis saat pelanggan mereka berumur satu telah berakhir lagi memerlukan proses yang efisien untuk mengidentifikasi tanggal kadaluwarsa dan pembaruan. Sebuah pelayanan yang efisien yang menggantikan kartu kredit lama akan menumbuhkan loyalitas konsumen dan kepercayaan perusahaan.

http://www.learnmarketing.net/servicemarketingmix.htm

proses wirausaha

Proses Kewirausahaan
By: Ade S | Label: Entrepreneurship, Kewirausahaan |
Tahap-tahap Kewirausahaan

Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha :

1. Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.
2. Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap "jalan", tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
3. Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
4. Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.


Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan, organisasi dan keluarga (Suryana, 2001 : 34).

Secara ringkas, model proses kewirausahaan mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007 : 10 – 12) :

1. proses inovasi
2. proses pemicu
3. proses pelaksanaan
4. proses pertumbuhan


Berdasarkan analisis pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah :

* mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan
* pembiayaan : pendanaan – jumlah dan sumber-sumber dana
* SDM : tenaga kerja yang dipergunakan
* kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha
* organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki
* kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC)
* Pemasaran : lokasi dan tempat usaha

http://adesyams.blogspot.com/2009/06/proses-kewirausahaan.html

konsep dasar

Pengertian dan Konsep Dasar Proses Produksi
Pengertian dan Konsep Dasar Proses Produksi

Sebelum kita membahas mengenai pengertian dari proses produksi, sebaiknya terlebih dahulu kita mengtahui arti dari proses. Yang dimaksud dengan proses adalah cara, metode, dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga keja, mesin, bahan, dan daya) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Sedangkan produksi seperti kita ketahui adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa. Dari uraian diatas kita dapat menarik kesimpulan mengenai pengertian dari proses produksi. Proses produksi dapat diartikan sebagai cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan, dan daya) yang ada. Seperti kita ketahui bahwa cara, metode dan teknik menghasilkan produk yang cukup banyak, maka proses produksi saat ini sangat banyak macamnya, Walaupun jenis proses produksi sangat banyak, tetapi secara ekstrem dapat dibedakan menjadi dua yaitu proses produksi yang terus-menerus (countinous processes) dan proses produksi yang terputus-putus (intermitten processes) ( Assauri, Sofjan, 1993).
Proses produksi adalah pengubahan (transformasi) dari bahan atau komponen menjadi produk lain yang mempunyai nilai lebih tinggi atau dalam prosesnya terjadi penambahan nilai (Yamit, Zulian, 1998).
Casperz, Vincent (2001) mendefinisikan proses produksi sebagai integrasi sekuensial dari tenaga kerja, informasi, mede kerja, dan mesin-mesin atau peralatan dalam suatu lingkungan guna menghasilkan nilai tambah bagi produk agar dapat dijual dengan harga kompetitif dipasaran. Prses ini mengkonversi input terukur kedalam output terukur melalui sejumlah langkah yang terorganisai, (lihat pada gambar 2.1).
tahun 1970-an sejalan dengan semakin berkembangnya komputer dan ditemukannya berbagai konsep baru lainnya.
Salah satu alasan mengapa MRP digunakan secara cepat dan meluas sebagai teknik manajemen produksi yaitu karena MRP menggunakan kemampuan komputer untuk menyimpan dan mengelola data yang berguna dalam menjalankan kegiatan perusahaan. MRP dapat mengkoordinasikan kegiatan dari berbagai fungsi dalam perusahaan manufaktur, seperti teknik, produksi, dan pengadaan. Oleh karena itu, hal yang menarik dari MRP tidak hanya fungsinya sebagai penunjang dalam pengambilan keputusan, melainkan keseluruhan peranannya dalam kegiatan perusahaan.
MRP sangat bermanfaat bagi perencanaan kebutuhan material untuk komponen yang jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh komponen lain (dependent demand). Sistem MRP mengendalikan agar komponen yang diperlukan untuk kelancaran produksi dapat tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan.
MRP memberikan peningkatan efisiensi karena jumlah persediaan, waktu produksi dan waktu pengiriman barang dapat direncanakan dengan lebih baik, karena ada keterpaduan dalam kegiatan yang didasarkan pada jadwal induk.
Moto dari MRP adalah memperoleh material yang tepat, dari sumber yang tepat, untuk penempatan yang tepat, pada waktu yang tepat



http://bagus-coy.blogspot.com/2010/04/pengertian-dan-konsep-dasar-proses.html

pengumpulan proses data

TENTANG MEDIA : Pengumpulan, Pengolahan, dan Penyajian

Oleh A. Okhi Irawan

Seperti kita ketahui bahwasanya media massa terbagai dalam dua kategori besar, yaitu, media massa cetak, media massa elektronik. Adapun media baru yang mendapat tempat di masyarakat Indonesia akhir-akhir ini yaitu internet sebagai new medium at the communication age.

Mulanya hanya catatan

Pada perkembangan awal, kegiatan reportase, tulis menulis atau aktifitas jurnalistik dikenal sebagai acta diurna, dalam pengertian harfiah berarti kegiatan untuk menuliskan dan mewartakan kegiatan senat yang berlangsung pada masa Julius Caesar, sekitar abad 15. Kini, berabad lampau setelahnya, jurnal harian yang ditulis seorang diurnarii atau wartawan tersebut telah mengalami perubahan signifikan sesuai perubahan zaman yang menyertainya.

Aktifitas jurnalistik tersebut dapat di lihat dalam beberapa aspek. Pertama, dari proses pengumpulan. Forum redaksi yang biasanya diselenggarakan, merupakan proses awal sebelum peliputan ke lapangan. Dalam forum tersebut, segenap awak redaksi, baik top management sampai lower management, berdiskusi mengenai issue aktual yang akan di sajikan dalam tiap edisi.

Lantas, setelah terjadi kesepakatan mengenai tema apa yang akan ‘dihidangkan’ pada khalayak para awak redaksi terjun ke lapangan menurut job description-nya masing-masing. Wartawan sebagai subjek utama dari kegiatan jurnalistik. Secara struktur, pengumpulan berita melalui proses koordinasi antara wartawan sebagai garda utama redaksi dengan staf redaksi yang berada di meja institusi yang ada di belakangnya.

Kalau diurutkan susunannya sebagai berikut : Pimpinan Redaksi - Redaktur Pelaksana - Koord. Liputan - Wartawan.

Dalam tataran media cetak, wartawan adalah subjek primer yang berhubungan langsung dengan sumber berita. Lalu, subjek struktural diatasnya bertanggungjawab secara redaksional dan secara institusi apabila ada berita yang dianggap mencemarkan atau membuat itikad yang kurang baik di benak pembaca. Redaksi harus menyediakan hak jawab dan hak koreksi apabila ternyata telah melakukan kekeliruan.

Proses penyajian pada media cetak pada umumnya menggunakan tampilan grafis yang tergolong simple atau sederhana, terlebih media-media formal yang ada. Coba Anda bandingkan media nasional seperti Koran Kompas, Koran Tempo, Pikiran Rakyat dll. Terlihat sederhana bukan? Tipografi yang dikedepankan adalah kesederhanaan.

Hal ini ditujukan dalam pembentukan karakteristik bahasa visual, mulai dari penempatan huruf yang terlihat simple, elegan, serta eye catchy, kolom dan tekstur yang tertata supaya terlihat lebih familiar dan mudah terbaca oleh kebanyakan orang. Copywriting, atau mengenai aspek tulisan dan karakter gaya yang ditawarkan kepada khalayak tergantung kepada ideologi dan latar belakang media itu sendiri. Ada yang tersurat baku layaknya pelaporan resmi, ada yang bercerita dengan tuturan manusiawi sederhana sehingga mudah diserap, ada juga yang ngejelimet, penuh kontemplasi dan bikin otak mengkerut.

And then electricized

Seperti halnya media cetak, pola-pola dasar jurnalistik dalam mencari, mengolah suatu fakta menjadi berita tidak jauh berbeda. Hanya, proses penyajianlah yang mendapat proporsi berbeda.

Cyber medium and the age of journalism

Sebagai salah satu perwujudan revolusi ketiga setelah revolusi industri dan pertanian, revolusi informasi merupakan kelanjutan dinamika kehidupan manusia dari penggunaan otot serta mesin menjadi optimalisasi otak serta ide-ide kreatif. Dan akhirnya hadirlah suatu bentuk media penyampai informasi berupa internet setelah beragam inovasi dilakukan dalam menyampaikan suatu message kepada publik. Akhirnya, masyarakat pun mendapat wahana baru dalam memperoleh pengetahuan.

Cyber media adalah medium komunikasi massa melalui media world wide web dalam sebuah ruang dan waktu yang bernama dunia maya. Hal ini merupakan paradigma baru dalam perkembangan media massa yang mampu mentransformasikan metode interaksi informasi pada perkembangan masa sekarang dan akan datang.

Cyber media memiliki sifat utama yaitu, tak kenal batas (borderless), tak kenal waktu (timeless), seketika (real time), serta kecepatan waktu (high speed). Hal tersebut merupakan salah satu keuntungan media cyber dibanding dengan media konvensional lainnya seperti media-media cetak.

Pada umumnya, proses pencarian berita atau sistem kerja media cyber tidak jauh berbeda dengan media konvensional seperti koran, majalah dan sejenisnya yang merupakan sarana penyalurkan konstruksi pesan dari komunikastor kepada komunikan. Ada proses kerja seperti peliputan oleh wartawan ke lapangan dengan koodinasi melalui koodinator liputan, lalu masuk ke meja redaksi menghadap redaktur pelaksana yang berada dalam struktur lapis kedua dalam bidang redaksi.

Selanjutnya, proses kebijakan laik-tidaknya suatu karya jurnalistik dalam media on-line diputuskan dalam suatu forum redaksi beserta kebijakan yang berada dalam tanggungjawab pimpinan redaksi. Lalu, bangunan fakta merujuk seluruh kepada sistem pesan-pesan yang dipilih, diproduksi, diolah, dan akhirnya di siarkan oleh source melalui media serba-cepat ini hingga mampu diterima serta ditanggapi oleh sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen serta anonim dengan kedipan mata.Namun, dalam media on-line seperti ini proses pencarian, pengolahan, dan penyajian berita berlangsung cepat sekali.

Mengenai Pola komunikasi

Pesan yang sama dapat diterima secara serentak, sesaat, dan cepat. Pada umumnya, media cyber memiliki karakteristik komunikasi yang beragam, bisa satu arah (one way communication) maupun dua arah (two way communication). Tetapi biasanya tergantung dari kebijakan owner web tersebut. Karena sasarannya pun bersifat global. Biasanya, komunikasi yang terjadi dalam sebuah situs bisa bersifat dua arah dimana komunikator (owner) dan komunikan (pengakses internet) bisa saling berinteraksi secara langsung tanpa perlu birokrasi dan biaya yang berlebih. Si komunikan dapat menanggapi informasi yang ada dan tampil pada halaman situs tersebut secara langsung, melalui halaman pembaca atau kolom opini yang tersedia.

Lahan

Media cyber akhir-akhir ini merupakan suatu lahan industri bagi dunia jurnalistik. Didalamnya dapat tercipta informasi, suplemen, konsultasi, info publik, iklan, dan tentunya lapangan kerja baru dibidang jasa informasi. Perkembangan menunjukkan, bahwa dari waktu ke waktu pengguna internet terus bertambah. Coba tengok data global centre perusahaan jasa keamanan internet yang menangani server situs menunjukan bahwa sampai Februari 2000 saja tercatat pengunjung situs 8 juta orang per harinya. Lima tahun dari tahun tersebut, angka pengguna melonjak signifikan, pasti!

Kemasan

Dalam cyber, deadline suatu produk jurnalistik berupa ‘berita’ merupakan tampilan paling depan, dan menu serta sub-menu informasi yang dibutuhkan khalayak di letakkan sebelah pinggir berita utama. Seperti Home page berita hari ini dengan berita terkininya, arsip informasi lainnya pun tak kalah penting. Menu-menu informasi disajikan secara teratur dan tersusun sistematis tinggal di klik

Tampilan halaman cyber berbeda dengan media konvensional. Dalam tampilan halaman media konvensional, audience harus bersusah payah membolak-balik halaman untuk memperoleh informasi yang diinginkannya, sedangkan, pada tampilan halaman cyber kita praktis tinggal mengkliknya saja. Dan waktu akan lebih efisien dengan adanya fasilitas search engine, dimana kita tinggal mengetik tema berita yang diinginkan, lalu, setelah ditemukan kita tinggal memilih tema-tema yang telah tersaring. Cyber juga memilki kemasan grafik yang lebih menarik bahkan dinamis ketimbang pada media konvensional. Hal tersebut dapat dilihat pada aspek pengorganisasian unsur-unsur seperti titik, garis, rupa, tekstur, warna, dan nada ke dalam suatu struktur dan bentuk yang menyatu, teratur, serta bermakna lebih ketimbang pada tampilan media konvensional. Tampilan dan perwajahan cyber media memberikan nilai plus yang lebih menarik bagi first impression audience.

Berbicara mengenai nilai lebih : Periklanan via media konvensional.

Media konvensional meletakkan perwajahan sebagai hal yang utama selain bobot isi yang ditampilkan, sehingga rata-rata bentuk lay out pada media konvensional ini cukup bagus, baik, serta kreatif. Sedangkan salah satu segi kelemahan dari media ini, pertama, wujud fisik cepat usang dibandingkan dengan bentuk media kontemporer seperti cyber. Sehingga keberlangsungan karya jurnalistik akan sangat minm. Lalu, apabila kita akan mencari suatu topik atau iklan tertentu harus dicari secara teliti dan teratur, hal ini berpengaruh pada individu yang mempunyai mobilitas yang tinggi.

Informasi yang disajikan dalam media cetak adalah berita yang telah terjadi dan sampai kepada para audience yang sudah naik cetak pada masa produksi, sehingga apabila ada berita yang lebih aktual serta krusial setelah masa produksi berlalu maka peristiwa tersebut tidak akan termuat. Lain halnya dengan situs, berita termuat dalam halaman web dapat di perbaharui dengan seketika. Lantas, berita pun akan terpublikasikan ke seluruh dunia dengan secepat-cepatnya (sesuai dengan salah satu esensi jurnalistik). Kelemahan lainnya, yaitu, media (cyber) ini bisa di salahgunakan oleh siapa saja dan dapat dikacaukan untuk maksud tertentu karena tidak ada limitasi bagi penguna yang dapat mengakses hal tersebut, sehingga sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis pengguna jasa cyber yang berada di bawah umur apabila tidak mendapat dampingan serta proteksi orang yang lebih dewasa.


http://okhi.blog.friendster.com/2008/04/tentang-media-pengumpulan-pengolahan-dan-penyajian/

proses pelayanan publik

Seri Panduan Manajemen Kinerja Pelayanan Publik (3) : Peningkatan Manajemen Pelayanan dengan 3PO

Untuk mencapai target pelayanan diperlukan peningkatan manajemen pelayanan. Ini menyangkut perbaikan Prosedur, Personil, Peraturan (Kebijakan) dan Organisasi yang bisa disingkat menjadi 3PO. Keempatnya menjadi bagian-bagian yang tidak terpisahkan. Oleh karena yang pertama-tama dipermasalahkan biasanya adalah aspek organisasi, uraian dibawah ini dimulai dari Organisasi pengelolaan pelayanan, kemudian mengalir ke Prosedur pelayanan yang sesuai dengan organisasinya, kemudian ke Personil yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan prosedur, dan akhirnya ke Peraturan yang diperlukan untuk mengukuhkan sistem pelayanan baru yang lebih efektif dan efisien.

1. Perbaikan Organisasi

Sebagaimana disinggung pada pembahasan Alur Penyediaan Pelayanan (Service Delivery Flow), terkait aspek organisasi yang sering dikeluhkan adalah: ketidakjelasan siapa yang bertanggung jawab atas suatu masalah dalam pelayanan. Sepintas lalu sepertinya pembagian tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) cukup jelas, namun begitu ada masalah riil yang harus ditangani, seringkali menjadi tidak jelas. Sebagaimana keluhan ini: “Organisasinya semrawut, tak jelas siapa yang bertanggung jawab, terjadi tumpang tindih, atau bahkan tak ada yang bertanggung jawab”. Penyediaan dan penyaluran pelayanan sering tersebar di beberapa lembaga/unit, dengan syarat yang berbeda-beda, sehingga menyulitkan masyarakat pengguna layanan atau kelompok sasaran.


Image



Perbaikan Organisasi sebaiknya menganut pada beberapa prinsip sebagai berikut:
• Struktur organisasi merupakan konsekuensi logis dari misinya ("form follows function");
• Organisasi sederhana dan ramping (“miskin struktur, kaya fungsi”, atau „lean and mean“);
• Peran (lingkup tugas, fungsi) dan akuntabilitas dari tiap unit jelas, tidak ada tumpang tindih (efektif dan efisien);
• Mencerminkan hubungan dan kaitan antar unit, hubungan dengan SKPD lain, serta pola kemitraan dengan lembaga swasta dan swadaya masyarakat; dan
• Mencakup tingkatan organisasi yang perlu diperbaiki, misalkan unit pelayanan (service point) tingkat paling bahwa yang berhubungan langsung dengan pengguna jasa (misalkan unit rawat nginap di Puskesmas); (b) tingkat pusat pelayanan (misalkan Puskesmas); dan (c) lembaga pendukung (SKPD) dari pusat/unit pelayanan tersebut (misalkan Dinas Kesehatan).

Unit pelaksana pelayanan di atas tidak dapat berfungsi kalau tidak ada dukungan yang kuat dari SKPD induknya, serta dari instansi-instansi lain yang terkait dan ikut memasok sumber daya yang diperlukan. Kelancaran hubungan antara unit pelaksana dengan lembaga-lembaga pendukungnya tersebut sangatlah menentukan, agar dukungan dan pasokan dapat diterima tepat waktu (”just-in-time”), agar unit pelaksana dapat melayani para pelanggan atau masyarakat dengan baik.

Pembagian tugas diantara lembaga pendukung tersebut juga perlu mengidentifikasi kewenangan masing-masing, apakah sebagai: pengambil keputusan, regulator, perencana, koordinator, pemasok (pemasok informasi, penyandang dana, penyedia orang, dst), penyalur/distributor, penghubung, pelaksana, pelaksana pembantu, pengawas dan penilai (evaluator).

Memperhatikan aspek kewenangan tersebut penting, karena selain peran dalam aspek fungsional, tiap lembaga/instansi tentunya perlu ditempatkan sesuai dengan kewenangan yang dimiliki, supaya tidak terjadi tumpang tindih tanggung jawab. Pengaturan tersebut juga untuk menghindari kecemburuan ataupun konflik kepentingan antar lembaga/unit.

2. Perbaikan Prosedur

Tujuan perbaikan prosedur di dalam organisasi adalah untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas proses pelayanan, serta tujuan pemerataan pelayanan. Ini menyangkut daya/sikap tanggap, akuntabilitas, dan transparansi. Kriteria penyelenggaraan pelayanan yang baik, sesuai Kepmenpan No. 25 tahun 2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah meliputi: kesederhanaan, kejelasan, kepastian dan ketepatan waktu, akurasi, tidak diskriminatif, bertanggung jawab, kelengkapan sarana dan prasarana, kemudahan akses, kejujuran, kecermatan, kedisiplinan, kesopanan, keramahan, keamanan, serta kenyamanan.

Prosedur penyediaan pelayanan dapat dibedakan atas dua proses utama, yaitu: (a) Proses penyajian pelayanan pada unit pelayanan (service point); (b) Proses pendukung unit pelayanan tersebut. Unit pelayanan (service point) - dimana pengguna jasa pelayanan (masyarakat) mendapat pelayanan. Prosedur menyangkut saat pengguna jasa datang atau bertemu petugas (loket), menyampaikan kebutuhan dan menyerahkan persyaratan yang dibutuhkan, hingga mereka memperoleh pelayanan jasa atau barang. Untuk menjamin pelayanan yang “cepat, mudah dan terjangkau” diperlukan prosedur yang efisien, jelas, tidak berbelit-belit dan mudah diikuti atau dipenuhi oleh pengguna jasa.

Pendukung unit pelayanan – yang memberikan dukungan sumber daya, informasi, keputusan, pedoman dari dinas (SKPD) terkait, juga lembaga-lembaga non pemerintah. Untuk kelancaran pelayanan, maka dipelukan kejelasan prosedur kerjasama antar lembaga. Masing-masing bertanggung jawab apa, kewenangannya apa? Pada umumnya setiap SKPD sudah mempunyai prosedur pelayanan untuk setiap pelayanan yang menjadi urusan wajibnya. Namun sesuai perkembangan dan tuntutan masyarakat tentunya perlu selalu disesuaikan dan ditingkatkan. Sama halnya dengan kerjasama antar SKPD karena kelembagaan pemerintah daerah bisa berubah dari waktu ke waktu. Untuk itu perlu penyusunan kembali prosedur pelayanan dan sistem pendukungnya yang melibatkan beberapa SKPD dan lembaga di luar pemerintah daerah.


Image

Dalam penyempurnaan prosedur tersebut, tindakan yang sering dilakukan adalah: abolish, combine, simplify, decentralize (ACSD). Yaitu: Apakah suatu proses bisa dihapus (abolish) saja, atau lebih baik digabung (combine) antar beberapa proses, atau hanya perlu disederhanakan (simplify), atau dalam beberapa kasus banyak kegiatan yang sifatnya teknis yang bisa didesentralisasikan kepada pelaksana, tidak harus oleh kepala SKPD, apalagi Bupati.


Sebagai hasil pembenahan prosedur, perlu digambarkan prosedur dan arus keputusan, informasi, uang, barang, dalam mata rantai penyajian pelayanan dan kegiatan-kegiatan pendukungnya. Dengan demikian akan tampak secara visual prosedur (flow diagram) yang dituju, dibandingkan dengan yang ada sekarang, dan bagaimana tahapan perbaikannya. Dengan diagram yang secara visual menggambarkan mata rantai prosedur tersebut maka pekerjaan peningkatan pelayanan akan menjadi jelas, mudah dimengerti para partisipan yang awam sekalipun.



http://bp2t.magelangkota.go.id/component/content/article/257-seri-panduan-manajemen-kinerja-pelayanan-publik-3-peningkatan-manajemen-pelayanan-dengan-3po-1.html

prosedur pengumpulan bukti

BUKTI DAN PROSEDUR PEMERIKSAAN SEBAGAI SUATU CARA PENGUMPULAN BUKTI
M. UTAMA NASUTION
Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara
A. PENDAHULAN
Pemeriksaan adalah suatu proses sistematik yang dilakukan oleh orang yang independen untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti mengenai sejumlah informasi yang berhubungan dengan kesatuan ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara sejumlah informasi tersebut dengan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan.
Sebagai dasar untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksanya, akuntan publik harus mengumpulkan bukti-bukti dalam pemeriksaannya. Meskipun catatan kwitansi menyediakan bukti pemeriksaan yang cukup untuk mendukung pendapat anditor, namun catatan tersebut bukan satu-satunya bukti pemeriksaan yang dikumpulkan oleh auditor.
Pengumpulan bukti pemeriksaan dapat dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap aktiva, wawancara, serta melalui berbagai sumber di luar pemeriksaan klien. Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan:
“Bukti andit kompeten yang cukup harns diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan”.
Ukuran keabsahan bukti tersebut untuk tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor independen. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya. Ketepatan sasaran, objektivitas, ketepatan waktu dan keberadaan bukti audit lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti.
B. KOMPETENSI BUKTI PEMERIKSAAN
Kompetensi bukti pemeriksaan dimaksudkan sebagai suatu tingkat dimana bukti-bukti yang diperoleh dapat dipercaya. Jika bukti-bukti yang diperoleh dipertimbangkan sangai kompeten, maka hal ini akan sangat membantu auditor dalam menentukan bahwa laporan keuangan yang diperiksanya telah disajikan secara wajar.
Untuk dapat dikatakan kompeten, bukti-bukti pemeriksaan bergantung kepada beberapa faktor. Pertimbangan-pertimbangan yang telah dilakukan secara luas dalam pemeriksaan antara lain adalah:
- Relevan ( Relevance)
- Sumber perolehan (Sources)
- Ketepatan waktu (Timeliness)
- Objektifitas (Objectivity)
RELEVAN
Bukti yang diperoleh haruslah berhubungan dengan tujuan auditor. Jika tujuan auditor adalah untuk menentukan keberadaan (existence) suatu persediaan, auditor dapat memperoleh bukti dengan mengadakan observasi secara langsung terhadap persediaan tersebut tetapi, bukti tersebut bisa tidak relevan dalam hal menentukan apakah persediaan tersebut milik klien atau dalam hal penilaiannya. Jadi dalam hal ini, suatu bukti mungkin relevan dalam suatu tujuan audit, tetapi tidak relevan dalam tujuan audit yang lain.
©2004 Digitized by USU digital library 1
SUMBER PEROLEHAN
Beberapa situasi atau keadaan yang berhubungan dengan sumber perolehan bukti dapat mempengaruhi kompetensi bukti tersebut Misalnya seorang auditor bermaksud mendapatkan bukti mengenai jumlah hutang seorang langganan. Langganan tersebut dapat ditanyai secara langsung mengenai saldo hutangnya, atau auditor dapat memeriksa bukti pengiriman barang dan tembusan faktur penjualan untuk transaksi-transaksi yang berhubungan dengan saldo hutang tersebut. Dalam hal ini, bukti yang diperoleh dari sumber pertama dianggap lebih kompeten jika dibandingkan dengan sumber yang diperoleh dengan cara ke dua.
Secara garis besarnya sumber-sumber informasi yang dapat mempengaruhi kompetensi bukti yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Apabila bukti yang diperoleh berasal dari sumber yang independen di luar perusahaan bukti tersebut dapat memberikan jaminan yang keandalan yang lebih besar dibandingkan dengan bukti yang diperoleh dari dalam perusahaan itu sendiri.
2. Semakin effektif struktur pengendalian intern perusahaan, semakin besar jaminan yang diberikan mengenai keandalan data akuntansi dan laporan keuangan.
3. Pengetahuan auditor secara pribadi dan secara langsung yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik, pengamatan, perhitungan, dan inspeksi lebih bersifat meyakinkan dibandingkan dengan infonnasi yang diperoleh secara tidak langsung.
KETEPATAN WAKTU (TIMELINESS)
Ketepatan waktu berhubungan dengan tanggal pada waktu bukti itu terjadi. Ketepatan waktu ini penting terutama dalam melakukan penilaian terhadap aktiva lancar, hutang lancar, dan yang berhubungan dengan saldo-saldo daftar rugi laba. Untuk perkiraan-perkiraan ini auditor mencari bukti apakah klien telah melakukan cutoff yang tepat terhadap transaksi kas, penjualan dan pembelian pada tanggal dilaporkan. Hal ini memungkinkan apabila auditor melakukan prosedur audit menjelang atau pada tanggal tersebut. Jadi dalam hal ini bukti yang diperoleh dari perhitungan fisik pada tanggal neraca akan menghasilkan bukti perhitungan yang lebih baik dibandingkan perhitungan yang dilakukan sesudah waktu tersebut.
OBJEKTIVITAS
Bukti yang bersifat objektif umtmmya lebih dapat dipercaya. Misalnya, bukti yang
diperoleh dari pihak luar perusahaan yang independent akan lebih objektif daripada bukti yang semata-mata diperoleh dari klien itu sendiri.
Dalam menilai objektifitas suatu bukti, perlu juga penilaian mengenai kualifik personal yang menyediakan bukti tersebut.
Sesuai dengan standar pekerjaan lapangan, audit yang dilakukan auditor independen bertujuan untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk dipakai sebagai dasar yang memadai dalam merumuskan pendapatnya.
Kompetensi data akuntansi yang mendasari dan informasi yang menguatkan, secara langsung berhungan dengan efektifuya internal control klien.
C. CUKUP ATAU TIDAKNYA BUKTI PEMERIKSAAN
Jumlah bukti yang diperoleh menentukan cukup tidaknya (sufficiency) bukti tersebut. Jumlah ini diukur melalui ukuran sampel yang diambil oleh auditor.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertimbangan auditor mengenai cukup tidaknya suatu bukti yang diperlukan, antara lain:

1. Tingkat Materialitas dan Resiko.
2. Faktor-faktor Ekonomi.
3. Ukuran Dan Kharakteristik Populasi.
TINGKAT MATERIALITAS DAN RESIKO.
Secara umum, bukti yang diperlukan bagi perkiraan-perkiraan yang materiil terhadap laporan keuangan akan lebih banyak dibandingkan bagi perkiraan-perkiraan yang kurang atau tidak materiil. Jadi, dalam melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan industri, jumlah bukti yang diperlukan untuk mendukung pemeriksaan persediaan akan lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan dalam pemeriksaan biaya yang dibayar dimuka.
Demikian juga sama halnya perkiraan-perkiraan yang kelihatannya diragukan akan memerlukan bukti yang lebih banyak dibandingkan dengan perkiraan-perkiraan yang kelihatannya benar. Misalnya, resiko terjadinya kesalahan dalam penilaian persediaan biasanya lebih besar dibandingkan dengan penilaian terhadap tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya bangunan.
FAKTOR-FAKTOR EKONOMI
Auditor bekerja dalam batas-batas pertimbangan ekonomis, jangka waktu yang pantas, dan dengan biaya yang wajar dalam memperoleh bukti-bukti yang diperlukan. Dalam hal ini auditor harns memutuskan dengan menggunakan pertimbangan profesionalnya apakah bukti audit yang tersedia dengan batasan waktu dan biaya cukup memadai untuk mendukung pernyataan pendapatnya.
Sebagai pegangan, harus terdapat hubungan yang rasional antara biaya untuk mendapatkan bukti dengan manfaat informasi yang diperoleh. Masalah kesulitan dan biaya pengujian suatu perkiraan bukan merupakan dasar yang sah untuk menghilangkan pengujian tersebut dalam proses audit.
UKURAN DAN KHARAKTERISTIK POPULASI.
Ukuran populasi dimaksudkan sebagai jumlah item-item yang terdapat pada populasi tersebut, seperti jumlah transaksi penjualan dalam jumlah penjualan, jumlah perkiraan langganan di dalam buku besar piutang. Umumnya, semakin besar populasi, semakin besar pula jumlah bukti yang diperlukan untuk mendapatkan dasar yang masuk akal untuk mencapai kesimpulan tentang populasi itu. Tetapi hubungan yang pasti antara populasi dan ukuran sampel bergantung pada tujuan dan sifat rencana pengambilan sampel yang dipergunakan.
Kharakteristik populasi termasuk kesamaan atau keanekaragaman item-item yang terdapat pada populasi tersebut. Dalam hal piutang dagang, salah satu faktor tersebut adalah jarak (range) jumlah rupiah saldo perkiraan piutang masing-masing langganan yang terdapat pada jumlah secara total piutang tersebut. Umumnya, diperlukan sampel yang lebih besar yang menghasilkan informasi lebih menguatkan, untuk mencapai kesimpulan mengenai variasi populasi dibandingkan dengan populasi yang seragam.
D. JENlS -JENIS BUKTI PEMERIKSAAN
Dalam memutuskan audit prosedur yang mana yang akan digunakan, ada beberapa jenis bukti-bukti pemerikasaan yang dapat dipilih oleh auditor, antara lain:
- Bukti Analitis (Analyttical Evidence)
- Bukti Dokumentasi (Docwnentary Evidence)
- Konfirmasi (Confinnations)
- Pernyataan Tertulis (Written Representations)
- Bukti Matematis (Mathematical Evidence)
- Bukti Lisan (Oral Evidence)
- Bukti Fisik (Physical Evidence)
- Bukti Elektronik (Electronic Evidence)

BUKTI ANALISIS
Bukti analitis adalah bukti yang diperoleh melalui perbandingan-perbandingan dan hubungan-hubungan data untuk menentukan apakah saldo perkiraan yang ditunjukkan cukup masuk akal. Misalnya antara total pendapatan dengan return on assaets. Tingkat keandalan bukti analitis ini tergantung pada relevannya data yang diperbandingkan. Misalnya, jika tidak ada perubahan yang significant dari segi sifat maupun ukuran kegiatan operasi perusahaan, dan faktor-faktor lainnya dari tahun-tahun yang lain, maka suatu perbandingan historis penjualan bulanan dengan data penjualan bulanan periode sekarang dapat menghasilkan bukti analitis mengenai kewajaran total pendapatan yang dilaporkan untuk periode sekarang.
Untuk perkiraan-perkiraan tertentu yang tidak materiil, mungkin hanya bukti analitis ini saja sudah cukup. Untukperkiraan-perkiraan yang lain, jenis bukti pemeriksaan yang lain dapat dikurangi bila bukti analitis menunjukkan bahwa suatu saldo perkiraan kelihatan cukup beralasan.
Dalam beberapa hal, bukti analitis juga digunakan untuk memisahkan perkiraan-perkiraaan atan transaksi-transaksi yang harns diselidiki lebih lanjut untuk membantu dalam memutuskan apakah penyelidikan tambahan masih diperlukan. Misalnya, perbandingan antara jumlah biaya antara jumlah biaya reparasi tahun sekarang dengan tahun lalu dan penyelidikan perbedaan yang terjadi tmtuk menentukan penyebab kenaikan atau penurunannya
Bukti analitis harus dilaksanakan pada awal pemeriksaan untuk membantu
memutuskan perkiraan-perkiraan mana yang tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut dimana bukti dapat dikurangi, dan pada bagian mana yang harus dilakukan penyelidikan secara lengkap.
BUKTI DOKUMENTASI
Dokumentasi secara umum dimaksudkan sebagai pembuktian, yaitu dokumen-dokumen dan catatan-catatan klien yang memperkuat informasi yang tercantum dalam laporan keuangan, misalnya notulen rapat dewan komisaris, perjanjian leasing, bermacam-macam kontrak, dan rekening koran. Dokumen-dokumen yang berasal dari pihak intern maupun pihak ekstern disimpan dalam file klien dan akan diberikan kepada auditor atas permintaan penyelidikan oleh auditor tersebut.
Dokumen yang berasal dari luar (ekstern) perusahaan,antara lain formulir pesanan langganan, faktur penjualan, bukti pajak, rekening koran, dan lain-lain. Bukti yang diperoleh dari luar ini umumnya lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan yang berasal dari dalam perusahaan klien Tingkat keandalan bukti ini akan lebih lagi apabila dikirim secara langsung kepada auditor oleh pihak luar.
Dokumen yang berasal dari dalam perusahaan adalah dokumen yang dipersiapkan dan dipergunakan dalam perusahaan klien dan disimpan tanpa pernah diberikan kepada pihak luar. Misalnya, tembusan faktor penjualan, laporan penerimaan barang, permintaan pembelian, bukti pengiriman barang, dan lain-lain.
Penentuan utama apakah auditor dapat menerima suatu dokumen sebagai bukti yang dapat diandalkan adalah apakah dokumen tersebut berasal dari eksternal manpun internal. Bila dokumen berasal dari internal,apakah dokumen tersebut didibuat dan diproses dalam kondisi struktur internal control yang baik. Jika kondisi struktur internal control yang lemah, maka dokumen tersebut tidak dapat sebagai bukti yang dapat diandalkan.
KONFIRMASI
Konfirmasi termasuk bukti dokumentasi yang melibatkan jawaban langsung secara tertulis oleh pihak ke tiga atas pennintaan khusus berdasarkan fakta-fakta yang sesugguhnya. Konfirmasi yang diperoleh secara langsung oleh auditor dari pihak ke tiga yang independen, umumnya memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi. Akan tetapi biaya konfirmasi ini relatif cukup mahal dan kurang menyenangkan bagi pihak-pihak yang diminta. Oleh karena itu konfirmasi ini tidak dilakukan pada setiap kesempatan.
Standar pemeriksaan mengharuskan auditor untuk mendapatkan bukti konfirmasi terhadap piutang dagang apabila mungkin dan masuk diakal untuk dilaksanakan (practical and reasonable). Persyaratan ini ditekankan oleh AICPA karena piutang dagang biasanya menyajikan saldo yang significant pada laporan keuangan, dan konfirmasi merupakan bukti yang sangat dapat diandalkan bagi perkiraan tersebut
PERNYATAAN TERTULIS
Pernyataan tertulis (written representations) adalah pernyataan yang ditanda tangani oleh orang yang bertanggung jawab dan mengetahui mengenai sesuatu hal yang perlu ditegaskan. Jenis bukti ini dapat dibedakan dengan konfirmasi dalam hal bahwa bukti ini dapat berasal dari dalam atau dari luar perusahaan. Selain itu bukti ini mungkin lebih bersifat subjektif atau pendapat pribadi seseorang mengenai sesuatu hal daripada informasi yang sebenarnya.
Auditor diharuskan oleh GAAS untuk mendapatkan pernyataan tertulis dari manajemen untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan. Pernyataan ini dapat mengungkapkan informasi yang tidak ditunjukkan dalam catatan akuntansi, seperti adanya ketidakpastian (contingencies) yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
BUKTI MATEMATIS
Bukti matematis berasal dari penghitungan kembali yang dilakukan oleh auditor dan membandingkannya dengan hasil perhitungan yang dibuat oleh klien. Pengecekan kembali ini dimaksudkan untuk menguji ketelitian klien dalam perhitungan matematis. Bukti matematis yang berasal dari auditor dapat diandalkan, biayanya relatif lebih murah, dan dapat dijadikan dasar bagi auditor dalam mengambil kesimpulan tentang penegasan mengenai penilaian ataupun pengalokasian.
BUKTI LISAN
Selama pemeriksaan, auditor menerima jawaban untuk berbagai pertanyaan yang dikemukannya kepada standard pegawai klien. Bukti lisan ini tidak dapat sangat diandalkan dengan sendirinya. Nilainya banyak tergantung kepada pengarahan anditor dalam mendapatkan bukti-bukti tersebut. Apabila bukti lisan memegang peranan penting dalam keputusan, sumber, sifat, dan tanggal diperolehnya bukti tersebut harus didokumentasikan pada kertas kerja auditor. Jika diperoleh dari pihak manajemen, auditor dapat meminta bukti lisan tersebut diperkuat dalam tulisan berupa surat pernyataan manajemen.
BUKTI FISIK
Bukti diperoleh dari pemeriksaan fisik atan penyelidikan terhadap aktiva yang berwujud. Bukti ini Bering dikaitkan dengan persediaan dan kas, tetapi juga dapat dilakukan untuk pemeriksaan surat-surat berharga, wesel tagih dan aktiva berwujud lainnya. Misalnya, auditor akan memperoleh informasi langsung mengenai keberadaan penerimaan kas yang belum didepositokan, persediaan, dan unsur-unsur aktiva tetap dengan cara pengujian dan pemeriksaan. Bukti fisik dapat juga membantu dalam menentukan kualitas atau kondisi aktiva yang berhubungan dengan penegasan penilaian atan pengalokasian.
BUKTI ELEKTRONIK
Istilah ini dimaksudkan untuk informasi yang dihasilkan oleh alat elektronik yang digunakan oleh auditor sebagai dasar memberikan pendapat tentang penegasan. Dalam istilah ini termasuk antara lain penggunaan komputer, scannner, sensors, magnetic media, dan alat-alat elektronik lainnya yang berkaitan dengan penciptaan, manipulasi, transmisi dan penerimaan data elektronis. Walaupun akhir-akhir ini sistem pemerosesan data elektronik telah secara luas digunakan dalam akuntansi, auditor tetap mempercayakan sebagian besar kemampuan sistem menghasilkan bukti dalam format tradisional seperti dokumen cetak, jurnal, buku besar dan laporan lain yang dihasilkan oleh komputer.
E. PROSEDUR PEMERIKSAAN
Prosedur pemeriksaan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh auditor dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti pemeriksaan.
Ada beberapa jenis prosedur pemeriksaan, antara lain:
- Analitical Procedures - Tracing
- Inspecting - Vouching
- Confinning - Observing
- Inquiring - Reperfonning
- Counting - Computer-assisted audit techniques.
ANALYTICAL PROCEDURES
Analytical procedur terdiri dari studi dan perbandingan hubungan-hubungan antara data. Prosedur ini termasuk perhitungan-perhitungan dan penggunaan ratio sederhana, analisa vertikal atau item-item yang sejenis, perbandingan jumlah dengan data historis stau budget. Analytical procedures ini akan menghasilkan bukti analitis.
INSPECTING
Inspecting melibatkan penelitian secara cermat terhadap dokumen dan catatan-catatan, serta pemeriksaan fisik terhadap sumber-sumber yang berwujud. Prosedur ini digunakan secara luas dalam pemeriksaan. Penyelidikan terhadap dokumen menyediakan suatu alat untuk mengevaluasi bukti dokumentasi. Jadi melalui inspeksi ini auditor dapat menaksir keaslian dokumen, atau mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang mungkin dilakukan.
CONFIRMING
Confirming adalah bentuk penyelidikan yang memungkinkan auditor memperoleh informasi secara langsung dari pihak luar yang independen. Dalam kasus ,yang biasa, klien membuat permohonan kepada pihak luar secara tertulis, tetapi untuk tujuan pengawasan, jawabannya dikirim langsung kepada auditor. Prosedur pemeriksaan ini menghasilkan bukti konfirmasi.
INQUIRING
Inquiring melibatkan pertanyaan baik lisan maupun tulisan oleh auditor. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dibuat secara intern kepada manajemen atau pegawai klien, seperti pertanyaan tentang persediaan yang usang atau kemungkinan dapat ditagihnya piutang, atau secara eksternal menanyakan kepada pengacara yang berkaitan dengan kemungkinan hasil perkara. Pertanyaan ini menghasilkan baik bukti lisan maupun tulisan.
COUNTING
Dua penggunaan yang paling umum dalam counting (perhitungan) adalah, (1) perhitungan fisik aktiva berwujud seperti jumlah kas atau persediaan yang ada di perusahaan, dan (2) perhitungan untuk dokumen yang diberi nomor sebelumnya Yang pertama menyediakan alat untuk menilai bukti fisik dari jumlah yang ada. Yang kedua bisa ditinjau sebagai penyediaan alat untuk mengevaluasi bukti dokumentasi dari kelengkapan catatan akuntansi.
©2004 Digitized by USU digital library 6
TRACING
Dalam tracing, auditor (1) memilih dokumen yang dibuat ketika transaksi dilaksanakan, dan (2) menentukan bahwa infonnasi yang terdapat dalam dokumen itu telah dicatat secara
wajar d.aJam catatan akuntansi (jurnal dan buku besar). Arah pengujian ini adalah dari dokumen ke catatan akuntansi. Karena prosedur ini memberi keyakinan dari bukti asli sampai akhirnya dimasukkan ke dalam perkiraan, maka prosedur ini terutama sangat bermanfaat untuk mendeteksi catatan akuntansi yang kerendahan. Jadi prosedur ini penting untuk mendapatkan bukti yang berhubungan dengan penegasan untuk kelengkapan.
Trasir berhubungan terutama dengan bukti dokumentasi.
VOUCHING
Vouching meliputi (1) memilih catatan yang ada pada catatan akuntansi, dan (2) memperoleh dan menyelidiki dokumen yang mendasari catatan tersebut untuk menentukan keabsahan dan ketelitian transaksi yang dicatat. Dengan vouching, arab pengujian berlawanan dengan tracing. Vouching digunakan secara luas untuk mendeteksi catatan akuntansi yang ketinggian (overstatement). Jadi, prosedur ini penting penting untuk memperoleh bukti sehubungan dengan penegasan terhadap keberadaan atan kejadian (existence or occurrence).
OBSERVING
Observing (pengamatan) berhubungan dengan memperhatikan akan menyaksikan pelaksanaan suatu kegiatan alan proses. Kegiatan tersebut bisa merupakan proses yang rutin dari suatu jenis transaksi seperti penerimaan kas, untuk melihat apakah pegawai melaksanakan tugasnya sesuai dengan kebijaksanaan dan prosedur yang telah ditetapkan.
Selain itu anditor mungkin juga mengamati ketelitian pegawai dalam pelaksanaan persediaan fisik persediaan tahunan. Jadi dalam hal ini auditor hanya mengamati proses perhitungan fisik persediaan. Berbeda halnya dengan inspecting, auditor melakukan inspeksi atan memeriksa unsur-unsur persediaan tertentu untuk membuat penaksiran sendiri mengenai kondisi persediaan tersebut.
Dari prosedur ini auditor mendapatkan sendiri pengetahuan secara langsung mengenai kegiatan perusahaan dalam bentuk bukti fisik
REPERFORMING
Penerapan yang paling sering dilakukan dalam prosedur ini adalah melakukan kembali perhitungan, dan rekonsiliasi yang telah dibuat oleh klien. Misalnya termasuk penghitungan kembali terhadap jumlah, biaya penyusutan, bunga, dan lain sebagainya. Prosedur ini menghasilkan bukti matematis.
COMPUTER-ASSISTED AUDU TECHNIQUES
Apabila catatan akuntansi klien menggunakan media elektronik, auditor dapat menggunakan teknik ini untuk membantu dalam pelaksanaan beberapa prosedur yang telah dibicarakan sebelumnya. Misalnya, Auditor dapat menggunakan software untuk melaksanakan perhitungan dan perbandingan yang digunakan pada prosedur analitis, memilih sampel piutang untuk konfirmasi, melaksanakan penghitungan kembali berbagai macam perhitungan, dll.


http://library.usu.ac.id/download/fe/akuntansi-utama.pdf

contoh physical evidence,

Physical Evidence pada Bank Tabungan Negara Persero Tbk

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan Bank Tabungan Negara, dibutuhkan Physical Evidence atau Bukti fisik yang bertujuan untuk mencapai kepuasan nasabah. Oleh karena itu strategi BTN salah satunya adalah dengan memberikan fasilitas exelent berupa kenyamanan.meliputi lingkungan fisik perusahaan tempat jasa diciptakan dan tempat penyediaan jasa serta konsumen berinteraksi, ditambah elemen tangible yang digunakan untuk mengkomunikasikan atau mendukung peranan jasa itu.

Unsur – unsur bukti fisik pada bank BTN diberikan antara lain :
1. Lingkungan fisik ( servicecape )
Lingkungan fisik yang di miliki oleh BTN adalah sebagai berikut:
a) Lingkungan eksterior
Fasilitas – fasilitas yang termasuk ke dalam lingkungan eksterior pada PT. BTN adalah:
a. Signage

Gambar a.1 Pemasangan baliho Bank BTN
Pemasangan baliho ini bertujuan agar masyarakat dapat melihat dan mengetahui lokasi BTN,dan dijadikan sebagai identitas BTN.

Gambar a.2 billboard Bank BTN
Pemasangan billboard sebagai media promosi. Ini bertujuan agar masyarakat dapat tertarik dengan produk dan fasilitas yang disediakan oleh BTN

b. Area Parkir

Gambar b.1 Area parkir Bank BTN yang umumnya selalu ada didepan gedung Bank BTN.
Fasilitas area parkir BTN terletak didepan karena untuk mempermudah nasabah dalam memarkir kendaraanya. Jadi nasabah tidak perlu berputar-putar kebelakang.
c. Landscape

Gambar c.1 Landscape Bank BTN
Landscape ini bertujuan untuk memperindah dan memberikan kenyamanan.

d. Gedung PT. Bank Tabungan Negara

Gambar d.1 gedung Bank BTN Kantor Cabang dan Kantor Pusat.
Bangunan BTN memiliki ciri khas yang samapada setiap bangunan didepanya, yaitu pilar berbentuk Segilima yang merupakan logo dari BTN yang memiliki filosofi rumah lebah.
e. Logo

Gambar e.1 Logo Bank BTN
Logo BTN mengambil pola segi enam. Pola ini mengambil bentuk sarang lebah, yang menyiratkan adanya kegiatan menabung pada masyarakat, sebagaimana halnya lebah yang selalu menyimpan madu perolehannya. Dengan lambang ini, BTN melaksanakan pembagunan nasional dengan mengerahkan dana masyarakat berbentuk tabungan, disamping itu pola ini menyiratkan "atap rumah" yang menjadi citra dan misi utama BTN, sebagai pelaksana KPR bagi masyarakat.

b) Lingkungan Interior
a. Ruang Teller

Gambar a.1 Ruang teller Bank BTN kantor cabang

Gambar a.2 ruang teller Bank BTN Kantor Pusat
Ruangan teller BTN juga memiliki ciri khas pada setiap meja teller yaitu menggunakan marmer berwanrna gelap dan terdapat pembatas antrian yang berfungsi agar nasabah dapat mengantri dengan tertib.
b. Ruang Customer Service


Gambar b.1 Ruang Customer service Bank BTN
Ruangan ini berfungsi untuk melayani nasabah yang ingin mengetahui informasi tentang produk dan jasa pada BTN. Seperti pembukaan tabungan, giro, deposito, dan lain-lain
c. Ruang Tunggu

Gambar c.1 Ruang tunggu nasabah Bank BTN
Ruang tunnggu merupakan pelayanan yang diberikan kepada nasabah yng ingin menggunakan jasa bank. Hal ini bertujuan agar nasabah tidak berdiri.
d. Bentuk Tangga rumah yang menyerupai bentuk tangga Bank BTN cabang Depok

Gambar d.1 Bentuk Tangga rumah yang menyerupai bentuk tangga Bank BTN cabang Depok.
2. Lingkungan Pendukung Perusahaan lain yang berwujud
 Kartu Nama Perusahaan (bussines card)


Gambar 2.1 Kartu Nama Karyawan BTN
Kartu nama berguna sebagai pengenal dan identitas.
 Halaman WEB

Gambar 2.2 Halaman Web BTN
Halaman Web in berguna untuk mempermudah nasabah dalam mendapatkan informasi, jadi nasabah tidak perlu datang langsung ke bank, dapat mengakses melalui internet.



 Brosur, pamflet, dan buklet

Gambar 2.3 Pamflet BTN
Pamflet bertujuan untuk media promosi


Gambar 2.4 Booklet
Booklet bertujuan untuk media promosi

Gambar 2.5 Brosur BTN
Brosur bertujuan untuk media promosi

 Seragam



Gambar 2.6 Seragam teller BTN

Gambar 2.7 Seragam teller BTN

Warna-warna pada seragam BTN memiliki sebuah arti. Warna kuning menggambarkan keagungan, bebes, dan hangat yang dapat menimbulkan rasa gembira dan merangsang urat saraf mata, warna biru menggambarkan sebuah ketenangan,ketentraman, dan kesejukan yang mengurangi tekaanan atau ketegangan dan berpengaruh pada pola berfikir dan konsentrasi.




Kesimpulan
Bukti fisik merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pelanggan. Dengan penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik yang disediakan oleh perusahaan maka diharapkan akan dapat meningkatkan kepuasan dari para pelanggan yang menggunakan jasa dari perusahaan tersebut. Bukti fisik juga turut membuat service menjadi menarik konsumen dalam melakukan kegiatan transaksinya. Sebagai contohnya dapat dilihat dari tempat dimana jasa tersebut ditawarkan atau dengan kata lain kondisi fisik dimana jasa dipasarkan yaitu gedung serta lokasi.
Bukti fisik sangat penting untuk posisi dan memperkuat penampilan karena terhadap bukti fisik ini nasabah siap untuk mengidentifikasi dan membandingkannya dengan jasa lainnya, dan dengan penampilan yang bagus maka akan memeberi nilai tambah bagi perusahaan dan juga membuat para nasabah senang dan betah bila kondisi tempat perusahaan itu benar memberikan suasana yang nyaman.
Bukti fisik juga turut membuat services menjadi menarik nasabah dalam melakukan kegiatan transaksinya, sebagai contoh dapat di lihat dari tempat dimana jasa di pasarkan yaaitu gedung serta lokasi. Bila lokasi tempat jasa itu berada tidak menarik atau rusak, kotor, maka akan mengurangi nilai tambah dari jasa yang di tawarkan tadi.
Kemampuan lingkungan fisik dalam mempengaruhi perilaku dan dalam menciptakan penampilan jelas terlihat pada bisnis jasa seperti hotel, restaurant, rumah sakit, toko retail, kantor – kantor professional, dan bank.
Pada Bank Tabungan Negara telah memberikan fasilitas fisik berupa bukti berwujud maupun tidak berwujud dengan baik. Hal ini di aplikasikan dengan adanya fasilitas eksterior (signage, parkir,dan landscape),fasilitas interior ( signage dan layout) serta fasilitas pendukung perusahaan lainnya.seperti seragam, kartu nama, brosur, web,dan laporan keuangan. Ini semua dapat memberikan kenyamaanan dan kemudahan bagi karyawan dan nasabah dalam melakukan transaksi. Semua itu dilakukan oleh bank BTN untuk memeberikan pelayanan yang terbaik dalam mencapai kepusan pelanggan sehingga BTN dapat di kenal sebagai bank yang memiliki kredibilitas baik dalam pelayanan nasabah .


http://iwandah.blogspot.com/2010/04/physical-evidence.html